Berjalan-jalan di pasar terkadang membuat kita lelah. Ramai orang yang berlalu-lalang kadang juga membuat gerah. Belum lagi bau sampah yang menusuk hidung. Tapi, jangan salah, Di balik ketidaknyamanan itu, ada hal lain yang bisa ditemukan di pasar. Sebuah lapak kecil di tengah pasar Lambaro, Aceh Besar menggoda mata saya. Pasalnya, lapak itu berisi alat-alat masak tradisional yang terbuat dari tanah liat. Di zaman kitchen set modern begini, masih ada orang yang menjual peralatan dapur zaman dulu.

Mahdi Fuadi, si pemilik lapak, mengakui bahwa barang dagangannya makin dianggap kuno. Para penguasa dapur alias ibu-ibu rumah tangga makin meninggalkan alat tersebut. Meskipun, harganya boleh dibilang amaaat murah hanya berkisar delapan ribu sampai lima belas ribu saja (murah kan???). Kendati demikian, Mahdi tak lantas beralih sebagai penjual kitchen set modern. Dia tetap bertahan menjual perangkat dapur dari tanah liat itu karena punya keunikan tersendiri. Memasak dengan perangkat ini, akan muncul aroma dan cita rasa berbeda. Dan…fungsi ini tidak bisa didapatkan dari alat masak modern. Dijamin, katanya, memasak dengan alat dari tanah liat….lezatnya.. hmm….tiada duanya.

Bagi yang mengerti cita rasa masakan, alat ini sungguh sangat bermanfaat. Nah, mereka itulah konsumen yang dilirik Mahdi. Selama masih ada orang yang butuh masakan lezat, alat ini bakal terus dicari. Persis meubel dari kayu. Selama orang butuh cita rasa seni, bukan sekedar tempat duduk, meja kursi dari kayu tetap laku di antaranya banyaknya furnitur modern. Tidak salah Mahdi berkeyakinan begitu. Sebab, ketika saya mengunjungi Desa Lamdom, Aceh Besar, alat masak tradisional masih jadi andalan.

Cut Rubami, salah seorang ibu rumah tangga, mengungkapkan keistimewaan sebuah periuk dari tanah liat. Menurut Rubami, banyak jenis masakan yang bisa dimasak di panci dari tanah liat ini. Seperti ikan kemamah (it’s nice trust me he.he!), bedanya masakan menjadi lebih wangi jika dibanding menggunakan periuk dari aluminium. Lebih dari itu, Cut Rubami merasa bahwa alat-alat masak tersebut adalah warisan leluhur yang mesti dijaga. Dan terpenting, katanya, lebih hemat ketimbang alat masak modern.

Melihat fakta ini, berarti alat masak ini tetap eksis di pasaran meski semakin langka. Tapi, siapakah pemasoknya? Setelah berkeliling seharian di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar (penuh abu dan panas hufff…), saya menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Sebuah keluarga di Desa Penjerat, Kecamatan Bandaraya, Banda Aceh, adalah jawabannya. Bentuk rumah keluarga ini khas Aceh. Yakni, bangunannya tinggi dan ada kolong di bawahnya. Di kolong itulah mereka mengolah tanah liat menjadi alat masak.

Lokasinya agak tersembunyi, memang. Tapi, produksi barang tersebut cukup lancar. Rosmalia, salah seorang anggota keluarga, mengaku sudah 20-an tahun menggeluti tanah liat. Bukan hanya alat masak sebenarnya, pot bunga dan guci pun dia bikin. Rosmalia mengaku tak kesulitan melayani order, apa pun bentuknya. Hanya, yang jadi masalah, sekarang semakin sulit mencari bahan baku. Bayangkan saja, untuk pasir satu mobilnya bisa sampai tiga ratus ribu! Dan untuk tanah, Rosmalia tidak harus membeli terkadang dia hanya mengambil disawah.

Betapapun, Rosmalia layak diacungi jempol. Di antara munculnya industri baru, dia masih menekuni industri ini. Kerajinan tangan yang makin langka ini tentu saja harus diperhatikan. Pemerintah tidak boleh lalai terhadap industri kecil seperti ini. Jika tidak, industri ini bakal punah beberapa tahun lagi. Memang, perangkat tradisional tidak menawarkan kepraktisan seperti halnya kitchen set modern. Tapi, soal efek cita rasa pada masakan, jangan pernah ditanya keunggulannya! Hemm….kita bakal rindu ke masa lalu….

Februari 07