Aku bangga terlahir sebagai perempuan, aku selalu bersyukur dengan kodratku. dengan kebanggaan dan syukur inilah aku mencoba untuk mendengarkan atau menyampaikan suara dari kaumku.
Sampai sekarang masih saja ada yang menganggap perempuan sebagai makhluk lemah, hah… sampai kapan pandangan seperti ini bisa hilang?, apa yang harus kami lakukan untuk membuktikan kalau kami juga bisa bekerja, berpikir sampai berkreativitas layaknya kaum adam?.
Masih tersimpan jelas dalam ingatanku ketika konflik melanda aceh dulu, dibeberapa daerah sebagian besar kaum laki-laki memilih untuk pergi keluar daerah dengan alasan takut atau sering mendapat ancaman. dan apa yang terjadi? Perempuan memilih untuk tinggal didesanya, mereka harus berusaha sendiri untuk menafkahi keluarga. kaum perempuan juga sering mendapat ancaman, tapi mereka tetap tinggal diantara ketakutan dentuman bom dan desingan peluru yang suatu waktu siap menggelegar.
Sekarang/ tak terhitung jumlahnya perempuan yang menghidupi keluarganya, mungkin saja suaminya meninggal atau yang lebih buruk dia ditinggal pergi oleh suaminya. pernah kah kami mengeluh? Pantaskah kami dikatakan lemah?, Apakah kejadian itu belum cukup membuktikan kalau kami juga memiliki kekuatan?.
Aku ingin suara kami tidak hanya didengar, tapi juga bisa menjadi pertimbangan dalam suatu keputusan?, apa permintaan kami ini terlalu mahal?. apakah semahal pengorbanan kami yang harus bergegas bangun dari subuh sampai malam hari tanpa istirahat hanya untuk melayani suami dan anak?.
Aku ingin kaum perempuan dihargai pendapatnya, apa permintaan ini juga terlalu tinggi harganya?. setinggi harga perjuangan kami mempertaruhkan nyawa ketika melahirkan calon-calon pemimpin di negeri ini?//
Aku memang tidak bisa membantu dengan materi/ tapi aku memiliki kemampuan dan keyakinan yang besar agar suara kita bisa didengar. bersama kita pasti bisa, jangan pernah takut kalah. anggaplah kekalahan itu adalah awal bagi sebuah kemenangan, bersama kita wujudkan perempuan-perempuan aceh yang mandiri dan sejahtera.




6 comments
Comments feed for this article
October 23, 2008 at 11:54 am
Baka Kelana
Artikel yang manis
October 23, 2008 at 12:18 pm
Rahman Citra
saya merinding membaca tulisan ini. Luar biasa…
October 23, 2008 at 9:36 pm
Ikhwan
Wanita dan pria adalah kodrat yang tidak bisa dipungkiri. Masing-masing sudah ditempatkan oleh ilahi pada posisinya masing-masing. Wanita… melahirkan, menyusui, mengasuh anak + melayani suami. Pria dibebankan tanggung jawab oleh Allah untuk mencukupi nafkah keluarganya lahir dan batin. Allah maha adil lagi bijaksana. DIA tidak membebani perempuan double tanggung jawab. Demikian juga sebaliknya.Mengapa mengelu?
October 28, 2008 at 9:48 am
Dalila Sadida
terima kasih atas tulisan ini.
October 28, 2008 at 2:17 pm
bayu200687
Engkau mungkin hanya sebutir benih. Namun tetap saja engkau adalah makhluk yang tercipta melalui proses paling rumit di alam semesta. Dia yang memberimu segalanya. Maka engkau adalah pelaksana akan segala titahNya, dan hanya kepadaNya engkau kembali bersua. Lalu apakah dalam genangan waktu yang kita tak pernah tahu kapan akan berlalu dan mengekalkan segala janji; engkau akan senantiasa diam dan mengeluhkan; mengapa langit begitu tinggi sedangkan tiap jeritan hanya bergema di hati?
November 8, 2008 at 9:43 pm
Roni
Batino sajo.
Nikahlah sana. teungku amin sudah, kau nunggu apa,hah?