Suasana Latihan....

Suasana Latihan….

Anda suka musik? Meski dengan selera yang berbeda namun saya yakin musik salah satu bagian yang tidak bisa dilepaskan dari kita. Berbicara tentang aliran musik, Aceh menjadi salah tempat berkembangnya berbagai aliran. Perdamaian telah membuka jalan masuknya berbagai musik, seperti hip hop, jazz, elektro dan regae, yang sebagian besar dibawakan oleh anak muda. Tapi, tunggu dulu. Apa saya tadi menyebutkan regea? Setahu saya irama musik dari jamaika ini masih belum terlalu banyak peminatnya. Regea memiliki ciri khas tersendiri, easy listening dan gampang untuk diikuti. Musik yang cocok untuk nyantai apalagi kalau mendengarkannya ditepi pantai, mendengarkan suara ombak sambil menikmati es kelapa muda.

Beberapa group regea yang saya kenal adalah black company, Asian Roots, Asian Force dan Jamming. Dan untuk aceh sendiri? ini lah yang ingin saya telusuri. Apakah ada komunitas khusus regae di Aceh? Atau anak muda di aceh hanya sekedar menikmati irama unik ini?

Belum lama ini saya singgah di studio 79 yang terletak dikawasan Ule Kareng Kota Banda Aceh. Katanya, ada sekelompok anak muda yang akan latihan musik, dan musik pilihan mereka adalah Regea. Dan Saya tidak salah dengar, itu memang musik regea. Saat istirahat latihan, saya mengajak Teuku Zulfandri atau yang akrab dipanggil Andi untuk berbincang. Mereka menamakan group musiknya Seuramoe Regea.

Ternyata Seuramoe Regea lahir dari kota Juang Bireun. Andy sebagai pencentus ide mencoba mengenalkan Regea kepada masyarakat Bireuen. Selama setahun andy dan kawan-kawan terus me ”Regea”kan Biruen. Dan pada awal tahun 2005 ia memutuskan untuk hijjrah ke Banda Aceh. beruntungnya ia bertemu dengan beberapa anak muda yang memiliki selera musik yang sama. Hal ini juga yang membuat minatnya untuk memperkenalan regea dikalangan pemuda aceh semakin besar.

Bob Marley, mungkin itu yang teringat di ingatan kita ketika mendengarkan regea. Musik yang menawarkan kesederhanaan tapi banyak mengandung pesan seperti lingkungan, sosial dan yang tidak kalah penting adalah pesan damai. Seuramoe Regea juga tak mau ketinggalan, Penandatangan MoU antara RI dan GAM tahun 2005 telah membuka pintu perdamaian. Melalui nyanyian berirama regea, mereka mencoba menyampaikan pesan-pesan damai. Selain perdamaian, Seuramo Regae bersama komunitas lainnya juga menyuarakan ketidakadilan, dan penebangan hutan di Aceh yang semakin menggila.

Dengan begitu apakah semua orang bisa menerima regea? Belum tentu. Ada sebagian yang memandang regea juga identik dengan hura-hura atau juga hidup bermalas-malasan. Kesan seperti inilah yang ingin dihapuskan oleh Andy dan kawan-kawan melalui Seuramoe Reggae. Boleh dibilang, Regea masih belum mendapat tempat khusus di hati Anak muda Aceh. Maka wajar jika usaha positif yang ingin mereka dalam rangka mealawan ketidakadilan serta mewujudkan pedamaian kita didukung.

Pesan damai yang diartikan oleh Para pelaku komunitas reggae ialah bebas berkarya,bisa menjalankan kehidupan tanpa ketakutan dan ancaman, seperti yang diungkapkan andi pada akhir perbincangan.

Sementara diluar sana banyak aktivis yang berdemo, berteriak-berteriak menuntut keadilan dan perdamaian, sebaliknya Komunitas regea menawarkan cara berbeda. Diiringi musik yang santai, mereka mengkritik, bercerita hingga berpesan.

perang telah usai, Damai membuka jalan pemuda Aceh untuk terus berkarya. Kalau boleh saya menawarkan pilihan ”Mendamaikan dengan regea? atau meregeakan perdamaian?” dengan satu keinginan yaitu damai sekarang untuk selamanya.