Kota Sigli, salah satu kota favoritku, Sigli dikenal dengan penduduknya yang suka merantau, disetiap daerah di aceh kita akan bertemu dengan orang sigli. Sore itu aku memilih untuk bersantai, setelah selesai melakukan diskusi bersama pendengar Radio Askar Kencana dan juga anak muda Sigli tentang bagaimana mereka melihat proses perdamaian di Aceh. begitu banyak hal kulakukan belakangan ini sampai tidak ada waktu untuk istirahat, kuliah dengan tugasnya yang menumpuk, kerjaan dengan deadlinenya yang terus mengejar. tapi aku tidak ingin membuang waktu, karena aku saat ini sedang memegang sebuah kepercayaan dari orang tuaku dan diriku sendiri, mengejar gelar sarjana!
Ngomong-ngomong tentang kepercayaan, tiba-tiba kupingku mendengar percakapan sekumpulan anak muda yang duduk di meja samping ku. Mereka saling berdebat dan berbagi pendapat, untuk sesaat aku tidak terlalu mendengar pembicaraan mereka, yang terlintas sedikit kalimat pemerintah aceh, bersih dari korupsi dan usaha-usaha. Wahhh aku jadi penasaran, timbul keinginan ku untuk ikut bergabung, paling tidak bisa tambah teman plus informasi. Penawaranku untuk ikut bergabung diterima dengan hangat, aku duduk disamping pemuda bernama hubbalillah, yang ternyata adalah ketua Himpunan Mahasiswa Islam atau HMI sigli.
Obrolan pun kembali mengalir, hubbalillah dan kawan-kawannya terlihat masih kecewa dengan pemerintahan sekarang ini. Mereka merasa para pemimpin belum betul-betul bisa mengemban amanah dan kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat. Pemimpin yang seharusnya menjadi tempat mengadu dan mencarikan jalan keluar bagi masalah-masalah rakyatnya, ternyata hanya terlihat sebagai seseorang yang memiliki kekuasaan, tidak lebih.
Hubadilillah mengaku untuk tahun ini tidak terlalu banyak kasus korupsi, tapi masih ada beberapa kasus dari tahun-tahun sebelumnya yang masih belum diselesaikan. Begitu besar uang masyarakat yang hilang, tidak tahu kemana digunakan.
Sebagai mahasiswa, hubadilillah dan kawan-kawan sudah berusaha untuk meneriakkan kebenaran. Mulai dari aksi turun ke jalan, diskusi sampai mengeluarkan pernyataan di media-media. Tapi….. usaha mereka belum cukup, suara mereka masih tidak didengar.
Hari hampir menjelang magrib, satu persatu pengunjung mulai meninggalkan cafe. Aku pun memilih untuk ikut pulang, dalam perjalanan menuju penginapan aku terus teringat dengan obrolan hubadilillah dan kawan-kawannya tadi. Mereka tidak menaruh harapan besar, paling tidak teriakan mereka bisa didengar meski walau hanya sedikit. Menginginkan pemerintahan yang bersih, pemimpin yang bertanggung jawab, mengedepankan keinginan masyarakat, itu bukanlah permintaan yang berlebihan. Sebuah pemerintahan akan terus hidup dengan adanya masyarakat didalamnya, tapi mengapa ketika masyarakatnya menangis hidup dalam kemiskinan, pemerintah seolah-olah menutup mata dan telinga?




5 comments
Comments feed for this article
January 13, 2009 at 12:09 am
Iqbal
keep fight, ubai cs….
denk…kok ga pulang-pulang…
January 13, 2009 at 2:39 pm
alex©
To the point saja: Kapan pulang kampung dan kapan akan kau lamar gadis tersebut™ heh?
January 18, 2009 at 5:16 pm
Iqbal
ala, paling dah lupa makan dia,…eh, lupa diri..
lupa diri kalau ada tanggungan 4 bini dan 4 anak yang menunggu di rumah masing-masing..he.he.he….
eh, dah macam artis sekarang ya, menderita syndrome antisilaturahmi akut…he.he.he…
January 20, 2009 at 11:15 am
Baka Kelana
Sip..bersih itu indah dan sebagian dari iman
January 21, 2009 at 7:24 am
Amru Munandar
sepakat banget tuh
lirik dan chord lagu aceh bisa di http://nandardeath.wordpress.com/lirik-lagu-aceh-chord/ ada lebih dari 40 judul lagu