You are currently browsing the monthly archive for February, 2009.
kami tidak selalu bersama..
tapi… ketika kebersamaan itu tiba semua waktu akan habis untuk tertawa, bercerita, berkhayal dan mimpi…
kami pernah
berjanji…
pada usia 25 semua telah menikah dan berkeluarga … hah janji yang berat tapi tetap akan dikejar walau umur mulai kadaluarsa..
kami mengontrak rumah yang sama…
rumah kecil di perantauan, yang membuat kami tetap bersama..
rumah sederhana di tanah bekas tsunami, yang suatu waktu sepi tanpa penghuni…
mereka bukan sahabat…..
tapi lebih dari itu…
saudara, teman, adik abang, saudara angkat atau istilah kekeluargaan apapun….
masih belum cukup untuk mengartikannya…
Menghabiskan waktu setelah kejar mengejar dengan deadline produksi akhirnya bisa nyantai juga huh..hah..huh!!!, pertama bingung mau kemana, tapi yang namanya pecinta laut dan suara ombaknya tetap aja tujuan nyantai ke “laut”, Lampuuk menjadi pilihan karena perut juga lapar sekalian mau makan ikan bakarnya nyam..nyam!!.
sampai di lampuuk udah kesorean ya sekitar jam 6 lewat, pengunjung udah mulai sedikit tapi gak akan mengurangi semangatku dan kawan-kawan untuk menikmati sunset dan ikan bakar. kami memesan 2 ikan, satu digoreng satu lagi dipanggang (ikannya besar-besar), pilih tempat pas didepan pantai lampuuk huiihhhhhhh harinya cerah.
lama menunggu pesannya ehh rupanya udah azan magrib, sambil nunggu aku memilih untuk shalat setelah bertanya sama yang jualan aku ditunjuk ke sebuah Mushala yang baru siap dibangun. aku sempat bingung dari arahan si abang jualan, “abang boleh shalat disini, dimushala juga boleh tapi gak ada orang disitu.” aku cuma bertanya dalam hati Kok bisa??
aku jalan ke Mushala, asli bangunan baru yang indah itu betul-betul sepi, gelap tanpa kehidupan. aku berwudhu disumur (belom ada tempat wudhu) merinding juga karena suasananya senyap apalagi ni tempatkan luluh lantak dihantam tsunami dulu plus banyak mayat yang berserakan disekitarnya.
setelah berwudhu aku bersiap-siap masuk kemushala, didepan pintu tiba-tiba aku melihat seorang bapak yang turun dari motornya, kalau dilihat dari perlengkapan yang dibawanya aku bisa menebak kalau si bapak baru selesai mancing. nah, disaat itu juga terjadi sapa menyapa, dimulai dengan pertanyaanku yang coba memulai percakapan “mau mancing pak?” hahahaha basi!!! kalau orang bawa pancingan ya pasti lah mau mancing masak mau main bulutangkis!. dengan ramah sibapak menjawab pertanyaan-pertanyaanku dan dari logatnya aku juga bisa tau kalau bapak bukan orang aceh mungkin sunda, sampai akhirnya giliran si bapak bertanya ” mau shalat ya?”, ku jawab iya, pertanyaan kedua sibapak membuat aku terkejut, “pendatang juga dik?” karena kaget dibarengin dengan perut lapar aku spontan menjawab “iya pak!!”, ya aku memang pendatang di Banda aceh dari sebuah kabupaten di kawasan barat Aceh (tebak aja sendiri!!!). nah pertanyaan selanjutnya ni yang buat aku lebih shock lagi!!. “orang Acehnya mana ya? kok gak ada yang shalat magrib?”. aku gak bisa menjawab cuma bisa diam dan langsung ambil posisi untuk shalat.
mungkin ini kebingunan bagi mereka yang baru melihat aceh, provinsi yang terparah terkena hantaman gempa dan tsunami, ternyata belum cukup menjadi pelajaran atau pengingat.
kita sering menghabiskan waktu untuk bersantai dan menghabiskan waktu ditempat-tempat yang indah seperti pantai atau pegunungan. sayangnya kita juga terlalu sering lalai menikmatinya sampai-sampai kita lupa untuk bersyukur kepada yang menciptakannya….
Kota langsa… sebuah kota yang minim akan tempat wisata, bisa di katakan tidak ada sama sekali. Padahal potensi alam dan tempat wisatanya bisa di perdayakan.
Dulu…ada sebuah tempat wisata yang terkenal tak jauh dari seputaran kota, dengan menggunakan kendaraan atau berjalan kaki, tempat ini bisa di tempuh hanya dalam waktu beberapa menit saja. terdapat di desa suka ramai, pondok kemuning kota langsa. Sebuah tempat yang mirip dengan taman air, hampir seluas 2ha, dan masih terlihat keindahan-keindahan yang tersisa.
Selimbat namanya. Sebuah kolam renang peninggalan zaman belanda ini dulu amat ramai dan di jadikan tepat wisata. Banyak pengunjung yang menjadikannya tempat untuk berkumpul bersama keluarga, sahabat, dan lainnya. Dikarnakan suasana selimbat yang begitu bersahabat. Menawarkan keindahan, keceriaan, ketenangan dan kesejukan alam sekitar. Membuat selimbat selalu dikunjungi, Begitulah suasana selimbat.
Bukan hanya pengunjung yang bisa menikmati wisata taman air kolam selimbat ini, tapi beberapa warga sekitar pun ikut mengambil keuntungan darinya. Beberapa warga sekitar dengan sengaja membuka tempat berjualan sebagai tempat mencari nafkah. Tak heran kalau tempat wisata ini sangat ramai dulunya.
Tapi…. suasana itu tak bertahan lama, keramaian para pengunjung dan warga sekitar perlahan sepi dan hanyut di telan konflik berkepanjangan di aceh. Hening… Sepi…dan mencekam merubah menyelimuti aura selimbat yang penuh keceriaan.
Tidak ada yang merawat, tidak ada yang bertanggung jawab dan tidak ada yang bekunjung lagi. Kian hari selimbat tinggal nama dan kenangan.
Saat konflik terjadi di aceh, selimbat berubah fungsi, dengan adanya kolam renang dan tempat yang strategis, orang yang tidak bertanggung jawab sengaja menjadikannya sebagai tempat pembuangan mayat yang mati secara tidak wajar.
Hanya Rumput jalar, semak belukar, ditambah beberapa spesies serangga, burung liar dan binatang lainnya yang betah menemani selimbat, sebuah wisata taman air kolam yang telah berubah menjadi tempat pembuanagan mayat, semangkin membuat wisata ini mencekam. Tak ada pengunjung yang mau kesana dalam waktu lama. Jangan kan untuk melihat, melirik pun tidak.
Konflik aceh yang telah hilang bersama dengan penanda tanganan damai aceh MoU Helsinki membawa angin segar untuk masyarakat aceh. Tapi tidak untuk selimbat, tidak ada yang mau tahu lagi keadaannya, bahkan pemerintah daerah pun terlihat cuek.
Warga dan masyarakat yang pernah berkunjung, sangat mendambakan kenangan indah yang hampir terlupakan dari benak mereka terulang lagi bersama bangunnya selimbat yang sudah hampir sepuluh tahun tidak beroprasi. Mereka resah akan mitos yang bertebaran di kalangan masyarakat tentang selimbat. Padahal selimbat angker bukan karena mitosnya, tapi karna suasana yang begitu menyedihkan menjadikannya mati. Seakan-akan menangis…. mengadu…. dimana kejayaanku dulu.
Semua kita berharap selimbat bisa kembali seperti dulu, tempat wisata yang indah dan ramai pengunjung. Kita mungkin bisa berbangga dengan perdamaian, tapi kebanggaan itu akan menjadi berkurang ketika keindahan hanya tinggal kenangan…..










Recent Comments