Menghabiskan waktu setelah kejar mengejar dengan deadline produksi akhirnya bisa nyantai juga huh..hah..huh!!!, pertama bingung mau kemana, tapi yang namanya pecinta laut dan suara ombaknya tetap aja tujuan nyantai ke “laut”, Lampuuk menjadi pilihan karena perut juga lapar sekalian mau makan ikan bakarnya nyam..nyam!!.

sampai di lampuuk udah kesorean ya sekitar jam 6 lewat, pengunjung udah mulai sedikit tapi gak akan mengurangi semangatku dan kawan-kawan untuk menikmati sunset dan ikan bakar. kami memesan 2 ikan, satu digoreng satu lagi dipanggang (ikannya besar-besar), pilih tempat pas didepan pantai lampuuk huiihhhhhhh harinya cerah.

lama menunggu pesannya ehh rupanya udah azan magrib, sambil nunggu aku memilih untuk shalat setelah bertanya sama yang jualan aku ditunjuk ke sebuah Mushala yang baru siap dibangun. aku sempat bingung dari arahan si abang jualan, “abang boleh shalat disini, dimushala juga boleh tapi gak ada orang disitu.” aku cuma bertanya dalam hati Kok bisa??

aku jalan ke Mushala, asli bangunan baru yang indah itu betul-betul sepi, gelap tanpa kehidupan. aku berwudhu disumur (belom ada tempat wudhu) merinding juga karena suasananya senyap apalagi ni tempatkan luluh lantak dihantam tsunami dulu plus banyak mayat yang berserakan disekitarnya.

setelah berwudhu aku bersiap-siap masuk kemushala, didepan pintu tiba-tiba aku melihat seorang bapak yang turun dari motornya, kalau dilihat dari perlengkapan yang dibawanya aku bisa menebak kalau si bapak baru selesai mancing. nah, disaat itu juga terjadi sapa menyapa, dimulai dengan pertanyaanku yang coba memulai percakapan “mau mancing pak?” hahahaha basi!!! kalau orang bawa pancingan ya pasti lah mau mancing masak mau main bulutangkis!. dengan ramah sibapak menjawab pertanyaan-pertanyaanku dan dari logatnya aku juga bisa tau kalau bapak bukan orang aceh mungkin sunda, sampai akhirnya giliran si bapak bertanya ” mau shalat ya?”, ku jawab iya, pertanyaan kedua sibapak membuat aku terkejut, “pendatang juga dik?” karena kaget dibarengin dengan perut lapar aku spontan menjawab “iya pak!!”, ya aku memang pendatang di Banda aceh dari sebuah kabupaten di kawasan barat Aceh (tebak aja sendiri!!!). nah pertanyaan selanjutnya ni yang buat aku lebih shock lagi!!. “orang Acehnya mana ya? kok gak ada yang shalat magrib?”. aku gak bisa menjawab cuma bisa diam dan langsung ambil posisi untuk shalat.

mungkin ini kebingunan bagi mereka yang baru melihat aceh, provinsi yang terparah terkena hantaman gempa dan tsunami, ternyata belum cukup menjadi pelajaran atau pengingat.

kita sering menghabiskan waktu untuk bersantai dan menghabiskan waktu ditempat-tempat yang indah seperti pantai atau pegunungan. sayangnya kita juga terlalu sering lalai menikmatinya sampai-sampai kita lupa untuk bersyukur kepada yang menciptakannya….