Kota langsa… sebuah kota yang minim akan tempat wisata, bisa di katakan tidak ada sama sekali. Padahal potensi alam dan tempat wisatanya bisa di perdayakan.
Dulu…ada sebuah tempat wisata yang terkenal tak jauh dari seputaran kota, dengan menggunakan kendaraan atau berjalan kaki, tempat ini bisa di tempuh hanya dalam waktu beberapa menit saja. terdapat di desa suka ramai, pondok kemuning kota langsa. Sebuah tempat yang mirip dengan taman air, hampir seluas 2ha, dan masih terlihat keindahan-keindahan yang tersisa.
Selimbat namanya. Sebuah kolam renang peninggalan zaman belanda ini dulu amat ramai dan di jadikan tepat wisata. Banyak pengunjung yang menjadikannya tempat untuk berkumpul bersama keluarga, sahabat, dan lainnya. Dikarnakan suasana selimbat yang begitu bersahabat. Menawarkan keindahan, keceriaan, ketenangan dan kesejukan alam sekitar. Membuat selimbat selalu dikunjungi, Begitulah suasana selimbat.
Bukan hanya pengunjung yang bisa menikmati wisata taman air kolam selimbat ini, tapi beberapa warga sekitar pun ikut mengambil keuntungan darinya. Beberapa warga sekitar dengan sengaja membuka tempat berjualan sebagai tempat mencari nafkah. Tak heran kalau tempat wisata ini sangat ramai dulunya.
Tapi…. suasana itu tak bertahan lama, keramaian para pengunjung dan warga sekitar perlahan sepi dan hanyut di telan konflik berkepanjangan di aceh. Hening… Sepi…dan mencekam merubah menyelimuti aura selimbat yang penuh keceriaan.
Tidak ada yang merawat, tidak ada yang bertanggung jawab dan tidak ada yang bekunjung lagi. Kian hari selimbat tinggal nama dan kenangan.
Saat konflik terjadi di aceh, selimbat berubah fungsi, dengan adanya kolam renang dan tempat yang strategis, orang yang tidak bertanggung jawab sengaja menjadikannya sebagai tempat pembuangan mayat yang mati secara tidak wajar.
Hanya Rumput jalar, semak belukar, ditambah beberapa spesies serangga, burung liar dan binatang lainnya yang betah menemani selimbat, sebuah wisata taman air kolam yang telah berubah menjadi tempat pembuanagan mayat, semangkin membuat wisata ini mencekam. Tak ada pengunjung yang mau kesana dalam waktu lama. Jangan kan untuk melihat, melirik pun tidak.
Konflik aceh yang telah hilang bersama dengan penanda tanganan damai aceh MoU Helsinki membawa angin segar untuk masyarakat aceh. Tapi tidak untuk selimbat, tidak ada yang mau tahu lagi keadaannya, bahkan pemerintah daerah pun terlihat cuek.
Warga dan masyarakat yang pernah berkunjung, sangat mendambakan kenangan indah yang hampir terlupakan dari benak mereka terulang lagi bersama bangunnya selimbat yang sudah hampir sepuluh tahun tidak beroprasi. Mereka resah akan mitos yang bertebaran di kalangan masyarakat tentang selimbat. Padahal selimbat angker bukan karena mitosnya, tapi karna suasana yang begitu menyedihkan menjadikannya mati. Seakan-akan menangis…. mengadu…. dimana kejayaanku dulu.
Semua kita berharap selimbat bisa kembali seperti dulu, tempat wisata yang indah dan ramai pengunjung. Kita mungkin bisa berbangga dengan perdamaian, tapi kebanggaan itu akan menjadi berkurang ketika keindahan hanya tinggal kenangan…..




2 comments
Comments feed for this article
November 15, 2009 at 5:22 pm
DITUT
really, this so AWESOME!!!!!
hahahahah
LIKE THIISSS!!!!!!
December 2, 2009 at 11:46 am
ZILVA YOE DWAI KAMIL
aduh….aku jadi sedih ….. dulu kan selimbat tempat ku berkemah dengan keluarga dan pramuka ku…..kapan ya selimbat di buka lagi….